Widjaja in Scandinavia Part 1: Helsinki


Helsinki Cathedral dan alun alun besar (Stortorget)
Salah satu hal paling menyenangkan adalah mengenal orang baru, dan belajar sesuatu darinya. Dalam trip ini, saya punya lima. Mereka adalah keluarga Widjaja. Kami berpetualang 10 hari di negara-negara Scandinavia, yaitu Helsinki (Finlandia), Stockholm (Swedia), dan Bergen (Norwegia).

Selamat datang di Helsinki!

Kamis itu pukul 13 siang rombongan keluar dari pintu kedatangan di bandara Helsinki. Saya menyambut mereka, berkenalan, kemudian memesankan taksi ukuran besar untuk transportasi ke penginapan. Taksi umum di negara-negara eropa biasanya hanya bisa memuat 4 orang maksimal, dan kami berlima. Rombongan terdiri dari Pak Artin, Bu Lia, Dea dan Warren. Taksinya berukuran 10 orang dan biasanya digunakan sebagai taksi sharing. Tapi agar langsung berangkat, kami mem-booking-nya secara pribadi. Dari bandara sampai kota, kira-kira 20 menit dengan taksi, dan harga charternya sekitar EUR60 untuk satu taksi.

Di taksi, kami berkenalan lebih jauh. Saya bercerita tentang status saya sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Warren (sekarang masih kelas 6 SD) bercerita kalau kuliah nanti, dia mau ke MIT (Massachusetts Institute of Technology). Sedangkan Dea akan mulai kuliah S1 hospitality di Lausanne (Swiss), September nanti.  Saya juga bercerita tentang Finlandia yang dulu dijajah Swedia kemudian Rusia, sebelum akhirnya berdiri sendiri. 

Rumah yang ditinggali adalah apartemen di taman kota, tidak jauh dari stasiun central Helsinki. Awalnya saya ingin memesankan rumah orang lokal melalui Airbnb, agar selain jalan-jalan ke kotanya, juga merasakan suasana rumah orang lokalnya. Tapi tidak mendapatkan yang cocok, sehingga kami memesan apartemen ini. Di dalamnya bersih sekali,  luas, dan terdapat dua kamar mandi, yang menjadi salah satu pesanan utama Pak Artin.

Pak Artin memiliki gaya berwisata yang fokus ke keluarga. Beliau tidak mau terlalu lama diluar dan terlalu banyak obyek wisata, dan lebih ingin setengah hari diluar, setengah hari berkegiatan bersama keluarga di rumah. Saya kira ini satu gaya yang baik, berbanding dengan seharian diluar, ketika pulang sudah lelah dan tidur. Besoknya keluar lagi pagi hari. 

Karena sudah sore, Pak Artin mempersilahkan saya pulang (ke hostel, tidak jauh dari apartemen) dan membebastugaskan saya. Kami keluar bersama-sama, karena Pak Artin dan keluarga mau makan di restoran cina di seberang jalan. Karena restorannya belum ada orang dan kami ragu apakah ia sudah buka, saya masuk dan bertanya pada salah satu staffnya (orang Asia). Ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris, dan hanya bisa bahasa lokal (Finnish) atau Mandarin. Ternyata Pak Artin dan keluarga juga berbahasa Mandarin. 

Saya pun berjalan menuju hostel. Karena masih sore, saya mengambil rute yang agak jauh, agar bisa melihat kota Helsinki lebih banyak. Saya sudah dua atau tiga kali ke Helsinki, tapi tidak mendapatkan kesan yang spesial. Mungkin karena saya lebih suka alam dan tidak terlalu suka kota. Satu-satunya yang saya suka dari Helsinki adalah pulau bentengnya yang bernama Suomenlinna. Tapi setelah perjalanan ini, saya menjadi lebih suka dengan Helsinki. 

Pulau Benteng Suomenlinna

Hari kedua kami mulai dengan langsung mendatangi spot paling terkenal di Helsinki, yaitu pulau benteng Suomenlinna. Pak Artin sayang sekali tidak bisa ikut, karena beliau sedang kurang sehat dan batuk. Dari rumah, kami berjalan ke stasiun central, kemudian naik trem dan berjalan menuju pelabuhan. Sebenarnya tujuan utama ke Finlandia adalah ingin melakukan kunjungan ke sekolah. Seperti kita ketahui, pendidikan dasar di Finlandia adalah yang terbaik di dunia, sehingga kunjungan sekolah pun menjadi salah satu atraksi utama untuk turis. Sayang sekali bulan Juni sekolah sudah libur sehingga kunjungan tidak dapat dilakukan.


Karena Suomenlinna merupakan pulau, jadi kami harus naik ferry dari Helsinki kesana. Tidak lama, hanya sekitar 20 menit. Cuaca di Helsinki hari itu cerah dan sinar matahari lumayan terang. Tapi ketika ferry berjalan, tetap saja anginnya membuat kami kedinginan. 

Karena hari itu masih bulan puasa, jadi saya tidak bisa makan minum di siang hari. Mengetahui hal itu, Bu Lia meminta izin untuk makan pagi di supermarket di Suomenlinna.  Saya berkeliling sebentar dan foto-foto sekitaran Suomenlinna.

Kami mampir di souvenir center yang kami lewati dan membeli beberapa souvenir. Warren membeli hot chocolate sendiri tanpa bantuan ibunya. Sesuatu yang rasanya saya belum bisa lakukan ketika saya seumur Warren. Apalagi dalam bahasa Inggris. 

Warren juga memperlihatkan sesuatu yang unik. Ia suka mendaki ke tempat yang lebih tinggi. Ketika melihat suatu bukit, ia selalu berusaha mendakinya. Karena Suomenlinna berkontur bebatuan, banyak batu tinggi di sekitar bentengnya. Yang lebih oke lagi, Bu Lia mempersilahkan Warren untuk naik. Saya rasa lebih banyak orang tua yang akan melarang anaknya mendaki bukit di Indonesia. Padahal ini bagus untuk motorik anak. 


Berikutnya, kami mampir di kapal selam Vesikko, yaitu kapal selam model CV-707 yang dibuat pada 1933 dan di restorasi menjadi museum pada 1973. 

Tujuan selanjutnya adalah meriam di pesisir pulau. Jalan menuju kesana pun indah. Kami melewati gua-gua bekas benteng, dan juga pesisir pantai berbatu. Seperti biasa, Warren pasti mendaki sana-sini dengan aktif. Bunga-bunga sedang mekar di sekitaran pantai. Turis-turis lumayan banyak tapi ramai di Helsinki (maupun dua kota berikutnya) tetap saja terllihat tidak ramai jika berbanding dengan ramai di Indonesia.

Titik terakhir yang kami datangi di Suomenlinna adalah Kings Gate, sebuah gerbang yang menjadi landmark sejak tahun 1700. Dari sana kami berjalan kembali menuju pelabuhan dan kemudian kembali ke kota Helsinki.


Di kota, kami melewati Market Square dan Old Market Square. Membeli es krim untuk dimakan sambil jalan. Warren memesan 2 scoop tapi kemudian tidak sanggup untuk menghabiskannya. Di Market Square, kami berhenti dan membeli sedikit souvenir lagi. 

Temppeliaukion, sang gereja batu

Saya menanyakan pada Warren, Apa habis ini kita mau ke Rock Church?
Church? Kami engga ke church. Jadi kayanya engga usah.

Saya teringat Bu Lia juga pernah berpesan kalau tidak usah terlalu banyak mengunjungi gereja. Karena objek wisata Helsinki banyak yang berupa gereja, menghilangkannya dari daftar kunjungan, akan mempersedikit objek wisata yang akan dikunjungi. Tapi kemudian saya melihat kartupos dengan gambar Rock Church, dan saya memperlihatkannya pada mereka. 

Rock Church adalah gereja yang terbuat dari batu (sudah jelas ya dari namanya), dan dibandingkan gereja pada umumnya, saya rasa ia jauh lebih bagus dan unik. Walaupun beberapa gereja lainnya di Helsinki menurut saya juga tidak kalah bagus. Misalnya Katedral Helsinki di alun-alun besar (Stortorget) yang menjadi ikon kota Helsinki. Kami sempat mampir juga disana, malah sempat mencoba memberi makan burung. Tapi apa daya hanya punya permen dan tidak punya roti. Burung yang hampir mampir pun menjauh lagi. Warren sempat mencoba memberi makan juga dengan sedikit grogi.

Setelah melihat gambarnya, Warren penasaran dan ingin melihat gereja batu ini. Kami pergi kesana dengan trem.



Setelah sempat salah jalan menuju pintu masuk gerejanya (kami malah jalan di taman diatas gereja), kami menemukan pintu masuk yang benar. Saat itu ada beberapa turis dari China yang sedang menunggu diluar pintu masuk. Ternyata mereka sedang menunggu gereja buka. Antara jam 14-15 gereja ditutup. Mungkin untuk dibersihkan? 

Didepan gerja ada toko souvenir kami menunggu sambil melihat-lihat souvenir. Tidak lama kemudian, gereja buka. 15 menit lebih awal dari pukul 15. Gereja ini ada tiket masuknya, tapi hanya EUR3, jadi menurut saya, tetap direkomendasikan untuk datang kesini jika ke Helsinki. 

Di dalam gereja ternyata lebih bagus daripada di foto di kartupos tadi. Bebatuan membentuk formasi lingkaran besar beratapkan plat berbahan tembaga. Ruangan gereja dialunkan musik tentram yang memberikan ketenangan. Ah saya jadi ingin sekali beribadah disana.

Apa boleh saya beribadah secara islam (sholat) di sini? Tanya saya kepada petugasnya.
Tentu saja. Walaupun ini gereja, tapi ini tempat ibadah, dan semua keyakinan boleh beribadah disini. Jawabnya.

Saya pun meminta izin kepada Bu Lia, dan mengambil suatu pojokan yang tidak terlalu ramai pengunjung, kemudian menjadikan jaket saya sebagai alas sholat. Ah rasanya senang juga bisa sholat disana. Warren pun terlihat senang berada di sana dan mengagumi arsitektur gereja batu itu.
Setelah dari Rock Church, kami pulang kerumah karena selain sudah sore, langit juga sudah mulai menurunkan gerimisnya.

Monumen Sibelius

Hari ketiga ini merupakan hari terakhir kami di Helsinki dan Finlandia. Sore ini kami akan bertolak ke Stockholm menggunakan cruise. Tapi karena cruise-nya masih jam 17 sore, dan apartemen kami membolehkan kami check out jam 15, kami punya waktu di pagi hari untuk berkeliling sekali lagi. Kami memulainya dengan monumen Lightbringer, atau dalam bahasa Finlandia, Valontuojia. Valontuojia adalah monumen atau karya seni untuk mengenang perang musim dingin, yang dibuat oleh seniman lokal Pekka Kauhanen.

Tujuan berikutnya yaitu satu monumen terkenal di barat kota Helsinki, yaitu monumen Sibelius. Menuju trem, kami melewati taman kota yang lumayan oke, dengan penjual buku di sepeda. Kami berhenti dan memfotonya, karena Pak Artin sangat suka akan buku dan mungkin akan senang melihat penjual buku di sepeda tersebut.



Setelah naik tram dan berjalan kaki melewati sebuah taman, kami melihat monumen Sibelius di kejauhan. Berjejer bis-bis pariwisata yang parkir tak jauh dari taman. Melihat para bis itu, saya beranggapan kalau objek wisata ini lebih oke dari gereja batu kemarin. Tapi rupanya ramai belum tentu bagus ya. Monumen Sibelius merupakan monumen yang dibuat untuk mengenang seorang komposer Finlandia bernama Jean Sibelius. Bentuknya terdiri dari pipa-pipa dan membentuk notasi musik. Unik memang. Tapi bagi saya gereja batu tetap menang. Mungkin preferensi pribadi saya saja ya. 


Setelah dari Monumen Sibelius, kami berjalan menyusuri danau didekat monumen. Sambil minum jus segar yang kami beli di pinggir jalan. Melewati sebuah pemakaman umum besar. Kami pun berbicara tentang kematian. Termasuk Dea dan Warren.

I boleh pilih engga, antara dikubur atau dibakar, ketika udah meninggal nanti? Tanya Warren.
You can. We all gonna die one day. But I go first maybe, than you Kata Dea kepada Warren, dengan logat Inggrisnya yang lancar itu.

Saya senang percakapan mengenai kematian tidak ditanggapi dengan negatif oleh anak-anak ini. Bu Lia juga bercerita pada saya, kalau ada keluarga mereka yang meninggal lalu abunya disebarkan dilaut. Saya membayangkan, rasanya itu enak juga. Ribuan debu dari tubuh kita, menyatu bersama angin dan lautan, bersama alam. Yah tanah juga alam, jadi saya tidak masalah yang mana saja.

Karena masih ada waktu sedikit, kami mampir ke market square yang lain. Kali ini sambil makan siang. Dan ketika jam sudah menunjukkan pukul 1330, kami pulang ke rumah untuk beres-beres.

Cruise menuju Stockholm

Taksi menjemput dan kami pun berangkat ke pelabuhan yang letaknya tidak jauh dari kota. Antrian penumpang yang ingin masuk sudah panjang, tapi bergeraknya lumayan cepat sehingga kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Yang oke adalah jalur khusus keluarga dengan anak kecil. Dan bukan itu saja, tapi ada petugas yang berkeliling dan melihat kalau-kalau ada keluarga dengan anak kecil yang mengantri di antrian umum. Jika ada, ia akan memanggilnya dan mempersilahkan keluarga tersebut melewati jalur khusus. Ciri-ciri pelayanan yang baik.

Kapal ini terdiri dari 12 lantai. Lantai 5 keatas terletak diatas air, dan lantai 4 kebawah berada di bawah permukaan laut. Lobi utama kapal Tallink Silja (nama perusahaan kapalnya) tersebut terlihat seperti sebuah mall, dengan restoran dan toko-toko. Setelah meletakkan barang di kamar, kami berkeliling untuk melihat fitur-fitur di kapal ini. Ada supermarket, area bermain anak, ada performance hall, dan yang menurut saya paling asik, adalah sun deck atau dek luarnya. Di sore itu matahari bersinar dan langit biru, enak sekali dinikmati dari atas kapal di lantai 12. Tapi anginnya tetap dingin, jadi kalau ingin berlama-lama di atas sini, jangan lupa pakai jaket ya.

Setelah itu kami kembali ke kamar dan beristirahat. Besok pagi kami akan tiba di Stockholm, kota tujuan wisata kami selanjutnya.



Comments